Articles by "Sejarah"

Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Pondok Pesantre Baiturrohmah yang berada di Jl. Ciliwung, Purwantoro Blimbing Malang ini adalah, sebuah pondok pesantren yang menghususkan ajarannya di dalam bidang pembinaan dan pembenahan kerohanian Islam, secara metamorfosa pengkajian diri / Kholwah menuju manusia yang dapat merasuk Al-Islam secara hakiki dan berkeseluruhan / melebur menjadi Islam itu sendiri. Mulai dari syari’at, thariqat, haqiqat dan ma’rifat-Nya. Sehingga mencetak manusia yang fleksibel disegala aspek ruang dan waktu kehidupan, nantinya.

Pondok Pesantren Baiturrohmah didirikan oleh Asy-Syaikh KH.Abdul Chayyi Muchyiddin Al-Amien (mbah.Yayi).  Nama Muchyiddin Al-Amien adalah pemberian Allah Azza wa Jalla melalui wakilnya yang terpilih sewaktu Yayi menunaikan ibadah haji di Makkah al-Mukaromah. Beliau mempunyai putra yang kemudian menjadi penerusnya yakni Asy-Syaikh KH.M.Sholeh Hudi Muchyiddin Al-Amien yang sekarang menjadi penerus pengasuh pondok pesantren Baiturrohmah. Beliau (mbah Yayi) adalah putra dari Asy-Syaikh Muhammad Sholeh yang mana putra dari Asy-Syaikh Hasan Munadi yang apabila dirunut adalah keturunan dari Asy-Syaikh Syarif Hidayatulloh atau biasa dikenal sebagai Kanjeng Sunan Gunung Jati.

mbah. KH Muhyiddin AL - Amin



Beliau KH. Chayyi mempunyai peranan penting di dalam sejarah Negara Indonesia ini. Baik dalam proses sebelum maupun sesudah kemerdekaan,  diwaktu perjuangan maupun pengisian kemerdekaan, mbah yayi juga berjuang secara fisik, sewaktu jaman perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia, beliau pernah berada di dalam organisasi perjuangan kemerdekaan Indonesia yang bernama laskar hizbullah. Dan setelah merdeka beliau kembali pulang untuk fokus membangun pondok pesantren. Sebelum beliau mendirikan bangunan pondok pesantren, Yayi selalu mengajak muridnya untuk berjalan – jalan, guna mengajarkan tafaqqur alam. Terkadang di lembah pesawahan yang cukup luas, kadang juga masuk hutan, dan sering juga berkhalwat di Goa - goa. Beliau seringkali mengerahkan santri-santrinya untuk berjuang dan membangun Negara baru yang bernama Indonesia ini.

Dimana Pancasila di gagas oleh KH.Anwar Thohir yang kemudian dicetuskan dan dibawa oleh Bung Karno. Siapakah KH.Anwar Thohir ?,  Beliau adalah santri pertama dari Asy-Syaikh KH.Abdul Chayyi Muchyiddin Al-Amien atau Yayi. Kyai Anwar ini juga waktu jaman presiden Soeharto mendapat amanah untuk merumuskan P-4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) dan atas jasa beliau, Pak Harto waktu itu mau memberi beliau sebuah pondok pesantren yang letaknya di pulau Sumatera, namun beliau menolak dan kembali ke pondok pesantrennya sendiri yang terletak di Sonotengah, Malang.

Banyaknya masjid – masjid yang dibangun di seluruh Indonesia adalah juga buah dari mbah Yayi yang pada saat th.1970 – an terkenal di media massa waktu itu dengan berita ‘Soekarno bangkit kembali’ karena saking miripnya beliau menyalin rupa seperti Soekarno untuk menemui Presiden Soeharto di istana Negara dan meminta beliau (Pak Harto) untuk memperbanyak dan memudahkan pembangunan masjid – masjid di seluruh Indonesia yang pada waktu itu masih sedikit.

Di zaman reformasi pun juga tidak terlepas dari kiprah santri – santri Yayi. Adalah Abah To’ib padangan, Mojokerto yang mengawal masa transisi dan untuk mengisi kekosongan sekaligus untuk peredaman situasi dengan menggunakan jasad KH.Abdurrahman Wachid atau yang biasa dikenal dengan sebutan akrab Gus Dur. Dan masih banyak lagi kiprah dan jasa dari Yayi maupun santri - santri pondok pesantren Baiturrohmah Malang ini terhadap Alam Semesta, Dunia, Negara, Masyarakat pada umumnya yang tidak dapat disebut satu – persatu. Perlu diketahui bahwa di pondok pesantren Baiturrohmah tidak ada istilah alumni, yang ada adalah santri tua.

Dari beberapa Santri tua yang sampai dengan saat ini, masih dikenang jasa - jasa di daerahnya masing masing salah satunya, alm. Mbah. Yai. Jatmiko Mojokerto, alm. Mbah. Mahfudz Tegal Dlimo Banyuwangi, Yai Abd. Halim Bondowoso, dan lain - lain. Dimana banyak diketahii sebagian besar dari para santri tua tersebut, telah banyak mengukir prestasi keruhanian bagi anak didiknya masing masing. Semoga manfaat.

Legenda dan Sejarah Desa  Alas Sumur Sampai Dengan Sekarang Menjadi Rawa Indah.

Konon pada dahulu kala, Desa Alas Sumur merupakan sebuah hutan belantara penuh dengan rawa- rawa yang terkenal angker. Hingga pada suatu ketika, datanglah seorang kiyai muda dari pulau garam Madura, yang bernama Kyai. Abdurrohim. Saat awal Kyai Abdurohim menapakkan kaki di hutan belantara tersebut, tiba - tiba ada sebuah semburan air yang cukup besar terpancar dari tanah salah satu sudut hutan itu. Seketika itu Kyai muda Abdurrohim bermunajat pada tuhan, meminta petunjuk mengatasi semburan air tersebut. 

Dari cerita masyarakat setempat, dalam tafaqqurnya Abdurohim muda mendapat suatu firasat, " Jika sampai sumber tersebut tak dapat disumbat , niscaya semua dataran yang saat ini dikenal sebagai Bondowoso, akan dipenuhi dengan genangan air, dan tak dapat dijadikan pemukiman" . Hingga dalam tafaqur tersebut Kyai muda, menangis tersimpuh pada tuhan semesta alam, memohon petunjuk.


Singkat cerita setiap hari Abdurrohim mengumpulkan sabut pohon Aren, setelah sabut tersebut memenuhi kendaraannya ( Jikar bahasa Madura red-), Abdurrohim mengikat gumpalan sabut Aren tersebut dan menyumbatkannya pada semburan air yang besar tersebut. Begitu ia lakukan setiap hari, hingga semburan air besar tersebut dapat ditutupnya. Dikarenakan semburan besar tersebut tertutup, ahirnya muncullah sebuah sumber air kecil yang cukup banyak di sekitar hutan tersebut.

 Legenda ini pernah dibuktikan oleh kepala desa Alas Sumur Totok Haryanto SH, Saat dirinya hendak membabat Rawa tersebut menjadi sebuah tempat wisata. Kades Totok mencoba menenggelamkan sebatang bambu yang ujungnya diberikan besi pengait, dengan ukuran panjang bambu kurang lebih 30 meter. Setelah semua batang bambu itu ditelan habis oleh permukaan rawa, lalu ia angkat kembali, alhasil diujung pengait itu terdapat serabut Aren yang tersangkut. Hingga kini Sumber air utama tersebut diberi nama sumber Patemon oleh masyarakat setempat. Dimana hingga saat ini sumber utama tersebut dilarang untuk dikembangkan dan dibiarkan sesuai dengan kondisi aslinya.

Walau begitu Hutan belamtara tersebut belum memiliki nama, hingga pada pertengahan tahun 1800san grilya belanda menjamah pertiwi, konon hutan tersebut dijadikan lahan pembuangan mayat. Hingga muncullah sebuah doktrin untuk masyarakat awam yang bermukim di hutan berrawa itu, " Jika menemui mayat di hutan tersebut, dilarang untuk mendekati, apalagi sampai menguburkannya, jika tidak akan mendapat musibah 7 turunan". Dari doktrin yang berkembang tersebut hutan itu kerap kali tampak mayat yang sampai membusuk dan dibiarkan begitu saja. 

Hingga pada sekitar tahun 1902 datanglah pemuda dari Desa tetangga Poncogati, kini masyarakat Alas Sumur banyak mengenalnya sebagai Buju' Karu. Dimana sebelumnya Buju' karu adalah seorang penganut muslim yang lebih menanamkan rasa kemanusiaan pada sesama. Melihat banyak mayat yang tergeletak tak terurus, dirinya tergerak untuk mengurus dan memakamkannya dengan layak. 

Melihat yang dilakukan buju' Karu, masyarakat menjadi heboh menggembar - gemborkan buju' Karu sebagai orang Sakti yang mampu menghilangkan Kutukan yang sebenarnya hanya doktrin sesat semata.  Hingga pada ahirnya tindakan buyut Karu terdengar oleh Pihak Belanda. Singkat cerita didatangilah Buju' Karu oleh belanda, dan diangkatlah Buju' Karu sebagai Kepala Desa pertama di daerah tersebut. Hingga dirinya memberikan nama desa tersebut sebagai DESA ALAS SUMUR hal ini dikarenakan awal mula buyut Karu menapaki daerah itu, dirinya melihat sebuah telaga kecil ditengah hutan yang menyerupai sebuah sumur. 

Hingga saat ini, sekitar satu tahun yang lalu hanya Kepala Desa Totok saja yang berani membuka lahan tersebut untuk dijadikan lahan wisata.  Dan genap satu tahun wisata alam tersebut berkembang pesat dan mampu manjadikan kemakmuran bagi masyarakatnya. 

Sebagus Apapun Perbuatan, Ingatlah Kebagusan Itu Hanya Milik Sang Pencipta

SejarahBudaya -Luqman Al-Hakim  لقمان الحكيم adalah seorang Ahli Hikmah  yang disebut dalam Al-Qur'an, surah Luqman (31)-12-19. Dimana beliau terkenal karena nasihat berharga kepada anaknya. 

Ibnu Katsir  berpendapat bahwa nama panjang Luqman ialah Luqman bin Unaqa' bin Sadun.
Sedangkan asal usul Luqman, banyak sejumlah ulama berbeda pendapat. Ibnu Abbas  menyatakan bahwa Luqman adalah seorang tukang kayu dari Habsyi.

Riwayat lain dari Nubah menyebutkan ia bertubuh pendek dan berhidung mancung, dan ada yang berpendapat ia berasal dari Sudan. Ada pula yang berpendapat Luqman adalah seorang hakim pada zaman nabi. Namun apapun pendapatnya Lukman, adalah seorang Filosof, yang menciptakan buah pemikiran arif ditengah umat Islam hususnya, hingga saat ini.

Dikisahkan dalam sebuah riwayat, bahwa pada suatu hari Luqman al-Hakim sedang memasuki pasar dengan menaiki seekor himar (keledai), sedangkan anaknya mengikutinya dari belakang. Melihat tingkah laku Luqman itu, orang-orang berkata, "Lihat itu orang tua yang tidak bertimbang rasa, sedangkan anaknya dibiarkan berjalan kaki."

Setelah mendengarkan desas-desus dari orang-orang tersebut maka Luqman pun turun dari keledainya itu, lalu dinaikkanlah anaknya di punggug keledai itu. Melihat keduanya, maka orang di pasar itu berkata pula, "Lihat orang tuanya berjalan kaki sedangkan anaknya asik menaiki keledai itu, sungguh kurang ajar anak itu."

Setelah mendengar kata-kata itu, Luqman pun naik ke punggung himar itu bersama anaknya. Kemudian orang-orang berkata lagi, "Lihat itu dua orang menaiki seekor himar, mereka sungguh menyiksa himar itu." Karena ia tidak suka mendengar percakapan orang, Luqman dan anaknya turun dari himar itu, dan berjalan kaki dengan membiarkan keledai tak ditumpangi, kemudian terdengar lagi orang berkata, "Dua orang berjalan kaki, dan himar itu tidak dikendarai, sungguh bodoh kedua ayah dan anak itu,"

Kemudian Lukman dan anaknya, seketika menggendong keledai itu, seorang dengan sinis berkata, " lihat seperti orang gila kedua ayah dan anak itu."

Dalam perjalanan pulang, Luqman al-Hakim menasihati anaknya mengenai sikap manusia dan ucapan-ucapan dan penilaian yang orang sampaikan, Lukmanpun berkata, "Sesungguhnya tidak ada seseorang pun yang lepas dari ucapannya. Maka orang yang berakal tidak akan mengambil pertimbangan kecuali kepada Allah saja. Siapa pun yang mengenal kebenaran, itulah yang menjadi pertimbangannya."Kemudian Luqman al-Hakim berpesan kepada anaknya, "Wahai anakku, tuntutlah rezeki yang halal agar kamu tidak menjadi fakir. Sesungguhnya tidak ada satu pun orang fakir itu kecuali mereka mengalami tiga perkara, yaitu tipis keimanan terhadap agamanya, lemah akalnya (mudah tertipu), dan hilang kepribadiannya.  Lebih celaka lagi, orang-orang yang suka merendahkan orang lain dan menganggap ringan urusan orang lain, dan selalu menganggap yang lain Salah."

Pada intinya sebagus apapun perbuatan seseorang, pasti akan ada yang menganggapnya salah, dan sebaliknya. 

Lukman Al-Hakim mengajarkan pada anaknya, sebagai manusia yang sadar agar tidak menilai orang lain sebagai kesalahan atas kebenarannya sendiri. Namun justru lebih menilai kesalahan pribadinya, diatas kebenaran yang dilihatnya.

2017 Tahun Ayam Api, Tahunnya Cinde Laras
 SejarahBudaya - Seperti yang kita ketahui Siho adalah anatomi perbintangan yang berasal dari negri Cina. Namun ternyata dari hasil penelusuran sejarah-budaya.com prediksi atau anatomi perbintangan tersebut juga sudah ada di tanah Nusantara ini. Hanya saja berbeda nama, jika di Cina dikenal dengan nama Shio, di Nusantara, Jawa Hususnya dikenal dengan Nujum. 

Dalam Nujum Si Majid karangan mpu. Sudanya (Mataram Kuno) Tahun Ayam Api yang dimulai pada tanggal 28 Januari 2017 mendatang, diyakini akan memberikan banyak keberuntungan. Ayam sebagai hewan yang giat bekerja akan memberikan berbagai dampak pada kemajuan usaha dan berbagai hal yang menyangkut urusan kesehatan, rezeki, dan asmara. 

Ditahun ini sebagai mana dijelaskan dalam serat Si Majid, adalah tahun Kelahiran ayam Cinde laras. Dimana pada kala itu ayam Cinde Laras menjadi populer akan ketangguhannya. Banyak musuh ayam lain yanf dikalahkan cinde laras. Namun karena kesombongan di penghujung tahun ayam Cinde alaras dapat dikalahkan hanya dengan se ekor ayam kurus nan kecil pula. 

Kesimpulannya, ditahun ini peluang besar anda untuk menjadi sukses, namun jangan sampai terlena akan kesuksesan tersebut, jika tidak anda akan termakan oleh kesuksesan itu sendiri.

Berikut anatomi beberapa Sodiak anda di Tahun Ayam api:

Wedus Gembol/ Aries (21 Maret – 19 April)
Pada tahun ini, aries menghadapi tahun yang sangat menggembirakan dan membuka berbagai kemungkinan untuk kesempatan yang baru. Kabar baik juga datang dari keuangan karena peningkatan finansial akan meningkat secara umum. Tapi jangan sampai malas karena kemajuan yang tetap menjadi dorongan besar untuk keberuntungan Anda.

Cundo Manik /Taurus (20 April – 20 Mei)
Makin banyak usaha yang Anda lakukan, makin banyak pula keberuntungan yang Anda dapatkan pada tahun ayam api di 2017. 

Berbagai pengakuan dan penghargaan akhirnya menjadi milik Anda setelah berjuang terus menerus selama bertahun-tahun. Peningkatan finansial yang terjadi akan menghapus seluruh permasalahan pribadi yang dihadapi.

Sarpo Udem / Gemini (21 Mei – 20 Juni)
Tahun ayam api menjadi saat yang tidak terlalu buruk untuk Gemini. Keluarga dan keadaan rumah akan memberikan kebahagiaan dan keceriaan, tapi harus siaga untuk memelihara tujuan profesional Anda. Kemunduran kecil yang mengganggu akan memancing kemarahan Anda dan memperlambat kemajuan di tahun ini.

Welang / Cancer (21 Juni – 21 Juli)
Tahun ini akan menjadi tahun paling menarik untuk cancer, tapi juga membawa banyak kejutan karena Anda akan dibawa dalam skenario yang menarik. Namun, skenario ini mungkin akan membawa Anda membayar lebih di kemudian hari. Menyenangkan setiap orang juga akan membebani keuangan Anda. Untuk itu, jaga siklus keuangan Anda dan ganti dengan cinta dan saran yang baik untuk sahabat Anda.

Maruto / Leo (23 Juli – 22 Agustus)
Setelah membereskan berbagai permasalahan yang ada di tahun 2017, Anda akan menciptakan stabilitas dalam hidup. Terus fokus dan lakukan yang terbaik dengan kemampuan Anda, dengan cara ini peningkatan finansial akan diraih. Teman-teman dan atasan akan membantu saat ini, tapi jangan sampai keadaan rumah menjadi berantakan karena ketidakpedulian Anda.

Inilah sekelumit zodiak versi Serat SiMajid.

Hanya Dengan Sebilah Clurit Pusaka, Ki. Ronggo Perluas Wilayah Hingga ke Jember
SejarahBudaya - Sejak terjadi pemberontakan di wilayah pemerintahan Adikoro lV oleh Ki. Lesap, Raden Bagoes Asrah yang masih kecil diungsikan dan dititipkan  oleh neneknya, kepada Ki Patih Alus, Patih Wiropuro untuk kemudian di tampung serta dididik ilmu bela diri, ketata negaraan, dan ilmu agama. Menginjak Usia 17 tahun Asrah, diangkat sebagai Mentri Anom dengan gelar Abhiseka Mas Astrotruno. Pada tahun 1789 Asrah ditugaskan memperluas wilayah kekuasaan Besuki ke arah selatan, dimana sebelumnya  telah menikah dengan putri Bupati Probolinggo, Nyi. Sa'diyahh.

Tahun 1794 dalam usaha memperluas wilayah beliau menemukan suatu wilayah yang sangat strategis untuk kemudian disebut Bondowoso, yang bermakna Bondo = Modal, Woso = Penguasa/ pencipta, secara anatomi bahasa, Bondowoso bermakna bermodal sang pencipta. Dalam hal ini dikarenakan, perjalanan babat perluasan wilayah tersebut RB. Asrah, hanya dibekali sebilah golok mirip clurit yang dikenal sebagai Calo' Ngandung, dimana kini banyak masyarakat meyakini Pusaka tersebut tertanam dibawah pohon bringin dekat makam beliau,  dan seekor kerbau putih yang bernama Kyai Melati yang dikubur juga dibawah pohon beringin tengah alun - alun kota , juga segelintir pengikut.

Dengan melintasi wilayah pegunungan sekitar Arak-arak (jalan lintas itu sekarang tidak diguna- kan)—di kemudian hari jalan itu sering disebut orang dengan sebut- an “Jalan Nyi Melas”. Rombongan Asrah lalu menerobos ke timur dan Saimpailah mereka di Dusun Wringin, melewati gerbang yang disebut “Labeng Saketeng”.Tim pembuatan sejarah Bondowoso mencatat nama-nama desa sepanjang jalan yang dilalui rombongan Mas Astrotruno, yaitu Wringin, Kupang, Poler, dan Mandiro, lalu menuju selatan sampailah mereka di sebuah desa yang bernama Kademangan. Disitulah Mereka membangun sebuah pondok tempat peristirahatan di sebelah barat daya yang diperkirakan sekarang Desa Nangkaan. Lalu merambat kesebelah utara yakni Glingseran, Tamben, dan Ledok Bidara. Sedang  disebelah barat, yakni meliputi Selokambang dan Selolembu. 

Sementara itu disebelah timur meliputi Tenggarang, Pekalangan, Wonosari, Jurangjero, Tapen, Prajekan, dan Wonoboyo. Sedang  disebelah Selatan mencakup Sentong, Bunder, Biting, Patrang, Baratan, Jember, Rambi, Puger, Sabrang, Menampu, Kencong, dan Keting.

Menurut perhitungan, jumlah pengikut RB. Asrah kala itu, sekitar lima ratus orang, yang nantinya di setiap desa dihuni oleh dua, tiga, sampai empat orang yang terdiri dari anak- anak, orang tua, pemuda, janda, dan duda.

Setelah itu kemudian dibangunlah kediaman penguasa di sebelah selatan Sungai Blindungan, di sebelah barat Sungai Kijing, dan di sebelah utara Sungai Growongan (Nangkaan). Tempat itu kemudian dikenal sebagai “Kabupaten Lama” Blindungan, terletak kurang leih 400 meter di sebelah utara Alun-alun. Pekerjaan membuka jalan itu berlangsung selama lima tahun (1789-1794). Untuk memantapkan wilayah kekuasaan baru di pedalaman.

Setelah kondisinya mapan,  pada tahun 1808 Mas. Astrotruno diangkat menjadi demang dengan gelar Abhiseka Mas Ngabehi Astrotruno, dan sebutannya adalah Demang Blindungan.Pembangunan kota pun kemudian dirancang. Menurut catatan Babad Bondomso, alun-alunnya seluas empat bahu,  Rumah kediaman penguasa menghadap selatan di utara alun-alun. Sedangkan di sebe­lah barat dibangun masjid yang menghadap ke timur. Masjid ini bukan hanya untuk keperluan ibadah melainkan juga dilengkapi ruang untuk melepaskan lelah setelah bekerja keras membabat hutan serta mem- bangun kota. 

Dari catatan Tim Tujuh Pembuatan Sejarah Bondowoso yang diketuai Soeroso, alun-alun itu semula adalah lapangan untuk memelihara kerbau putih kesayangan Mas Astrotruno, karena di situ tumbuh rerumputan makanan ternak. Lama kelamaan lapangan itu mendapatkan fungsi baru sebagai alun-alun kota.

Untuk tempat menghibur para pekerja agar tidak jemu dan bisa melepaskan lelah, Mas Astrotruno memanfaatkan kesempatan itu untuk mengadakan berbagai tontonan, antara lain aduan burung puyuh {gemak), sabung ayam, kerapan sapi, dan aduan sapi.Tontonan adu sapi itu menarik penonton dan sangat digemari oleh para peserta aduan. Kemudian acara ini diselenggarakan secara berkala pada saat-saat tertentu. Aduan sapi itu menjadi tontonan populer di Jawa Timur, sampai tahun 1998.

Berdasarkan catatan H Abd. Razaq,  dalam bukunya Asal Mula Aduan Sapi dan Rangkaiannya dengan Babad Bondowoso yang ditulis dalam bahasa Inggris dan dicetak di New York disebutkan bahwa berdasarkan laporan-laporan Mas Astrotruno kepada Kiai Ronggo Besuki, Astrotruno kemudian diangkat sebagai Nayaka merangkap jaksa negeri, sebagai tanda terima kasihnya. 

Dari Ikatan Keluarga Besar “Ki Ronggo Bondowoso” pada 1998 didapat keterangan bahwa pada 1809 Raden Bagus Assrah atau Mas Ngabehi Astrotruno diangkat sebagai patih berdiri sendiri (elfstandig) dengan nama Abhiseka Mas Ngabehi Kertonegoro. Beliau dipandang sebagai penemu (founder) sekaligus penguasa peme- rintahan pertama (first ruler) di Bondowoso. Adapun tempat kediaman Ki Kertonegoro yang semula bernama Blindungan, dengan adanya pembangunan kota diubah namanya menjadi Bondowoso.

Demikianlah dari hari ke hari Raden Bagus Assra berhasil mengembangkan Wilayah Kota Bondowoso dan tepat pada tanggal 17 Agustus 1819 atau hari selasa kliwon, 25 Syawal 1234 H. Adipati Besuki R. Aryo Prawirodiningrat sebagai orang kuat yang memperoleh kepercayaan Gubernur Hindia Belanda, dalam rangka memantapkan strategi politiknya menjadikan wilayah Bondowoso lepas dari Besuki, dengan status Keranggan Bondowoso dan mengangkat R. Bagus Assra atau Mas Ngabehi Astrotruno menjadi penguasa wilayah dan pimpinan agama, dengan gelar Mas. Ngabei. Kertonegoro dan berpredikat Ronggo I, dengan ditandai penyerahan Tombak Tunggul Wulung.

Semasa Beliau memerintah Keranggan Bondowoso pada tahun 1819 – 1830 kepemimpinannya dikenal arif dalam memimpin wilayah Bondowoso dan Jember. Hingga Pada tahun 1854, tepatnya tanggal 11 Desember 1854 Kironggo wafat di Bondowoso dan dikebumikan di atas bukit kecil di Kelurahan Sekarputih Kecamatan Tegalampel, yang kemudian menjadi Pemakaman keluarga Ki Ronggo Bondowoso. Makam ki Ronggo terletak tidak jauh dari pusat kota Bondowoso yang hanya berjarak +/- 2 km arah Utara Alun-alun Kota. Akses ke pintu masuk kawasan makam ini melalui daerah Perumahan Sekarputih  Indah. Seperti Komplek makam Raja atau penguasa daerah pada umumnya, komplek makam ini juga dijaga oleh Juru kunci Makam. Konon di dekat anak tangga pertama menuju makam ada sumur tua yang diyakini airnya bisa untuk teraphy penyembuhan berbagai macam penyakit.

Sumber: Perpus Bondowoso, Perpus Besuki, Keturunan Ki.Ronggo, beberapa sumber Masyarakat.

Tumbal Syekh Subakir, Untuk Dapat Menyatukan Keyakinan, Bukan Mempertajam Perbedaan
SejarahBudaya - Syekh Subakir seorang ulama' yang diutus ke Tanah Jawa bersama dengan masa Wali Songo Periode Pertama. Ulamak yang terkenal sebagai penumbal tanah Jawa tersebut, diutus oleh Sultan Muhammad I dari Istambul, Turkey, untuk berdakwah dan membumingkan Agama Islam di pulau Jawa pada sekitar tahun 1404. 

Syekh Subakir sebagai salah satu dari anggota Wali Songo periode pertama dengan Nasab lengkap beliau adalah, Syaikh Subakir bin Abdulloh bin Aly bin Ahmad bin Aly bin Ahmad bin Abdulloh bin Ahmad bin Muhammad bin Ahmad bin Aly bin Abubakar bin Salman bin Hasyim bin Ahmad bin Badrudin bin Barkatulloh bin Syafiq bin Badrudin bin Omar bin Aly bin Salman Alfarisiy.

Pada kala itu Syaikh Subakir berdakwah di daerah Magelang Jawa Tengah, dan menjadikan Gunung Tidar sebagai Pesantrennya. Syekh Subakir adalah salah seorang ulama Wali Songo periode pertama yang dikirim khalifah dari Kesultanan Turki Utsmaniyah Sultan Muhammad I untuk menyebarkan agama Islam di wilayah Nusantara. 

Syekh Subakir konon adalah seorang ulama besar yang telah menumbal tanah Jawa dari pengaruh negatif makhluk halus saat awal penyebaran ajaran Islam di nusantara. Kisahnya berawal dari saat Sultan Muhammad 1 mendapat petunjuk dari Tafaqqurnya, untuk menyebarkan dakwah Islam ke tanah Jawa. 

Adapun mubalighnya diharuskan berjumlah sembilan orang. Jika ada yang pulang atau wafat maka akan digantikan oleh ulama lain, asal tetap berjumlah sembilan. Mereka yang diutus  bersama syekh Subakir diantaranya, Maulana Malik Ibrahim/ Sunan Gersik berasal dari Turki, ahli mengatur Negara, Maulana Ishaq, berasal dari Samarkand, Rusia Selatan, ahli pengobatan,  Maulana Ahmad Jumadil Kubro, dari Mesir, Maulana Muhammad Al Maghrobi, berasal dari Maroko, Maulana Malik Isro’il, dari Turki, ahli mengatur negara, Maulana Muhammad Ali Akbar, dari Persia (Iran), ahli pengobatan, Maulana Hasanudin, dari Palestina, Maulana Aliyudin, dari Palestina, dan Syekh Subakir, dari Iran, Ahli menumbali daerah yang angker yang dihuni mahluk halus.

Sudah beberapa kali utusan dari Kesultanan Turki Utsmaniyah yang datang ke tanah Jawa, untuk menyebarkan agama Islam tapi pada umumnya mengalami kegagalan. Penyebabnya masyarakat Jawa saat itu sangat memegang teguh kepercayaannya. Sehingga para ulama yang dikirim mendapatkan halangan, karena meskipun berkembang tetapi ajaran Agama Islam hanya dalam lingkungan yang kecil, tidak bisa berkembang secara luas. 

Selain itu konon, Pulau Jawa saat itu masih merupakan hutan belantara angker yang dipenuhi makhluk halus.  Lalu diutuslah Syekh Subakir yang ahli dalam mengatasi ekologi, meteorologi dan geofisika dunia tak kasat mata.

Konon Syekh Subakir menginjakkan kakinya ke Gunung Tidar, hanya dengan membekali diri dengan Tumbak Panjang Kyai Jangkung. Dimana menurut cerita rakyat pusaka itu adalah garapan mpu. Supo yang husus diperuntukkan kepada syekh. Subakir. Dengan bekal berbagai Ilmu yang dimiliki dan pusaka yang berkaromah tinggi, Syekh Subakir ahirnya dapat membuat kesepakatan dengan Kyai. Semar, untuk dapat memperluas ajaran Islam di tanah Jawa. Dimana dalam kesepakatan itu, kyai. Semar dan Syekh Subakir sama-sama menanamkan tumbal, dengan tujuan untuk dapat tidak saling mengganggu antara keyakinan yang dibawa syekh Subakir dengan keyakinan murni penduduk tanah Jawa yang tidak ingin berpindah keyakinan. Hingga pada ahirnya syekh subakir memilih bagian Jawa separuh kebarat dengan menumbalkan pusaka Tombak Panjang di gunung Tidar. Sedang Kyai Semar menumbalkan dirinya sendiri di Kawasan Alas baluran tepatnya di Wisata Watu Dodol. 

Sampai saat ini ajaran Islam sudah sangat membuming dipersada Nusantara. Sedang efek dari Tumbal Kyai Semar terlihat ttp melindungi ajaran Hindu, dari Watu Dodol meluas ketimur meliputi pulau Bali, Lombok, dan juga tersebar diseluruh persda Negri ini. 

Namun apapun wujud keyakinannya, selama masih menegakkan kebaikan, pada intinya sama - sama menuju pada satu titik ideologi Ketuhanan yang maha esa. Berbeda beda namun tetap satu Jua.  Karna pada dasarnya kita boleh berprinsip namun jangan sampai menjadi Fanatik, karena kefanatikan adalah suatu wujud kebodohan yang tak disadari.

Oleh: Nur HM

Legenda "Cumeti Somandiman", Cikal Bakal Reog Ponorogo
SejarahBudaya - Legenda Cumetti "Somandiman" ini berawal dari cerita masyarakat Ponorogo tentang, singa jadi – jadian yang bermahkotakan burung merak.

Dikisahkan sebuah Kerajaan Bantarangin yang kala itu dipimpin  oleh Raja Muda gagah, tampan, bijak dan terkenal sakti mandraguna, dialah Prabu Klana Sewandana. 

Melalui Patih Pujangga Anom, Klana Sewandana Sang prabu meminang Dewi Songgolangit, Putri Kerajaan Kediri. Meski berwajah buruk, namun Pujonggo Anom adalah seorang Patih yang sakti, luhur budi, banyak akal, cekatan, gesit, dan lucu. Dari kecantikan sang putri kediri tersebut, banyak yang ingin memperistrikannya, termasuk Prabu Singo Barong dari Lodaya-pun juga ingin meminang Putri Songgo langit. 

Dari itu untuk menolak halus lamaran kedua Raja, Dewi Songgolangit meminta syarat diberikan tontonan yang belum pernah ada, 144 ekor singa dengan pasukan berkuda dan binatang berkepala dua yang pandai menari.

Mengetahui syarat itu Prabu Klono Sewandono, mengajukan diri dan ahirnya sanggup memenuhi permintaan Dewi Sanggalangit. 

Prabu Singo Barong yang tahu akan keberhasilan Sewandono,  ingin merebutnya, hingga terjadilah perang. Dimana dalam perang tersebut Prabu Sewandana terluka parah dibagian mukanya. Dengan ditutup  topeng Kencana, luka diwajahpun akhirnya berangsur pulih kembali.

Setelah pulih, Sewandono melanjutkan pertarungannya kembali dan khirnya Singo Barong dapat dilumpuhkan dan bertekuk lutut dengan sabetan  pusaka “Cumeti SOMANDIMAN” dari Prabu Klono Sewandana.

Konon kedua pusaka Cumeti SOMANDIMAN dan topeng Kencana tersebut,  diperoleh dari pertapaan Prabu Klono Sewandana, di Alas Purwo. Dimana kedua pusaka tersebut diperolehnya dari batara Surya. 

Usai berperang, persyaratan yang diajukan oleh Putri Sangglangitpun ahirnya dapat dipenuhi dengan menciptakan reog ponorogo dimana Reog itu mengisahkan pertempuran tadi, dan binatang berkepala dua-pun diambil dari kepala Singa Barong.

Cumeti Somandiman Ini adalah Pecut Sakti, yang terbuat dari Rotan bercabang dua. Sedang topeng kencana terbuat dari batang kayu kemuning. Dimana kedua bahan pusaka itu diambil ditengah alas purwo dengan petunjuk sang batara Surya.

Konon dari petunjuk batara Surya, prabu Sewandono kelak akan mengukir kultur budaya yang kuat dengan menggnakan kedua pusaka tersebut.

Terbukti dengan memper istri Dewi Songgo langit dan dapat menaklukkan  prabu singo barong dengan pusaka tersebut, hingga kini kultur budaya Reog Ponorogo, masih membuming dinusantara ini. 
Dikutip, dari sejarah leluhur.

SejarahBudaya - Curug Muncar Di Purworejo yang Masih Sangat asri dan Alami, menjadi sensasi tersendiri bagi setiap mata yang memandang. Disesi ini kita akan membahas salah satu potensi wisata di Kab. Banyuwangi. Tempat wisata curug muncar terletak tepatnya di desa kaliwungu kecamatan bruno atau 45 km arah barat laut dari pusat Kab. Purworejo.

Wisata curug muncar adalah air terjun yang berada di ketinggian 900 m diatas permukaan laut. Air terjun ini cukup memukau, sehingga sangat cocok sekali bagi para wisatawan  yang berjiwa petualang. 

Untuk dapat mencapai lokasi Curug di perlukan perjuangan fisik dan mental yang tidaklah mudah, jalan berliku dan penuh bebatuan tajam terhampar disepanjang perjalanan. Namun ketika sampai lokasi,  semua itu akan terbayarkan oleh keindahan tempat wisata ini setelah para wisatawan sampai di Curug. Sepanjang jalan menuju air terjun, pengunjung akan  disuguhi oleh kesejukan air sungai dan udara dingin diareal wisata itu.

Menurut Legenda masyarakat, Curug Muncar pernah dijadikan pertapaan mpu. Patrang, saat hendak merebut keris Sumelang milik Brawijaya, yang dicuri oleh minak Jinggo. Konon dalam tapa bratanya Mpu. Patrang, mendapat petunjuk dari sang pencipta, agar dalam merebut pusaka tersebut, tak perlu ada kekerasan, namun cukup hanya dengan pengelabuhan. Dimana dalam pengelabuan tersebut si mpu, cukup membuat duplikat keris sumelang, yang nantinya akan ditukar dengan yang aslinya. 

Dalam tapa brata tersebut pula mpu. Patrang mendapat beberapa butir batu meteorid yang harus disusupkan dalam keris duplikat buatannya tersebut. Hal ini bertujuan agar Raja Blambangsn tersebut tidak dapat membedakan keaslian dan kepalsuan kedua keris tersebut. Alhasil dengan media bertapa di Curug tersebut mpu. Patrang dapat menunaikAn tugas yang di embannya.

Dari legenda itulah hingga sekarang Curug Muncar dipercaya menjadi tempat mustajab, bagi setiap pengunjung yang memohonkan hajatnya di tempat tersebut. 

Oleh: Nur HM

Sejarah SEMAR BONDRO NOYO, Masih Menjaga Pertiwi
SejarahBudaya - Sebuah batu besar setinggi 7 meter yang berada tepat ditengah kedua ruas jalan raya perbatasan Kab. Banyuwangi dan Situbondo ini, sekitar 6 kilometer dari Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, dikenal masyarakat luas sebagai Watu Dodol.

Dimana dalam bahasa Jawa, batu ini memiliki arti watu atau batu sedang Dodol dapat diartikan sebagai jenang (Jenis makanan). Watu Dodol sendiri merupakan batu karang berwarna hitam yang memiliki bentuk unik layaknya pazel yang tersusun rapi, dan di bagian sisi selatan atas, tumbuh sebatang pohon kelor yang menambah keunikan batu tersebut. Meskipun dulu terlihat angker, namun kini wisata berpantai tersebut terlihat asri dengan dihiasi taman sebagai jalur hijau.

Tak jauh dari kawasan pantai tersebut, ada sumur air tawar, dimana penduduk setempat membangunkan dinding yang terbuat dari batu karang bersemen. Air tawar yang krluar dari sumut itu dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit.

Pada sekitar Tahun 2011 dibangun sebuah Kuil "Tu Di" dimana  tak jauh dari kuil terdapat sepasang makam tepatnya di puncak bukit sisi barat Watu Dodol. Konon Sepasang makam tersebut dikeramatkan oleh berbagai kalangan, yaitu para penduduk setempat maupun orang-orang dari luar daerah Banyuwangi. Tak jarang terlihat  beberapa orang yang sedang tirakat di lokasi makam tersebut. Dari keterangan seorang pertapa yang sudah kurang lebih 7 tahun tunggal dekat makam itu, menceritakan bahwa ia memperoleh penglihatan batin. Dimana ia ditunjukkan bahwa sepasang makam keramat di kawasan Watu Dodol, merupakan makam sepasang putri kerajaan yang diungsikan.

Kawasan Wisata Watu Dodol juga terkenal akan berbagai legenda mistisnya yang turut menarik perhatian wisatawan untuk datang. 

Pada masa Kerajaan Blambangan diperintah oleh Minak Jinggo, sempat terjadi peperangan antara pasukan Blambangan dengan Majapahit. Dimana pasukan Blambangan mengalami kekalahan sehingga banyak yang melarikan diri menuju pantai utara.Seorang prajurit Blambangan membawa bekal berupa jadah (sejenis dodol berbentuk lonjong seukuran telapak tangan). Saat beristirahat di tepi pantai, bekal yang ia bawa tertinggal. Dan konon Dodol tertinggal  tersebutlah  yang akhirnya berubah menjadi batu karang.

Juga ada legenda fersi Cina dimana, Chen Fu Zhen Ren seorang arsitek yang memenuhi sayembara Raja Mengwi untuk membangun sebuah taman kerajaan dalam kurun waktu tertentu. Namun, hingga tiga hari dari batas waktu yang ditentukan, arsitek tersebut belum membangun apa-apa. Selama ini Raja Mengwi terus memberinya peringatan, tetapi sang arsitek terlihat acuh. Pada malam di hari ketiga sebelum batas waktu berakhir, tiba-tiba saja taman istana yang sangat indah muncul begitu saja, semua orang terkejut,  Raja Mengwi memerintahkan untuk menangkap sang arsitek karena takut. Pada malam harinya, dua orang prajurit yang ditugaskan menjaga sang arsitek membawanya kabur ke Blambangan karena mereka menganggap sang arsitek sebenarnya tidak bersalah apa-apa. Tidak seberapa jauh, pelarian mereka diketahui dan mereka dikejar hingga menyeberangi Selat Bali. Kedua prajurit tersebut bertempur mati-matian melindungi sang arsitek dan akhirnya tewas, sementara sang arsitek yang terkepung berubah menjadi batu berukuran besar dengan bentuk aneh, yaitu bagian atasnya lebih besar dari bawahnya. Penduduk setempat memakamkan kedua prajurit itu di puncak bukit sebelah barat Watu Dodol (makamnya masih sering dikunjungi hingga sekarang oleh berbagai kalangan kepercayaan dan agama).

Dan yang tak kalah populer adalah legenda SEMAR, hal ini diperkirakan bukan berasal dari masyarakat setempat (orang Osing - penduduk asliBlambangan) karena mereka tidak mengenal sejarah pewayangan sebelumnya. Dimana dikisahkan bahwa Semar Noyo Genggong berjualan di pantai Watu Dodol, tetapi bahan yang ia jual terguling. Berasnya yang tumpah menjadi hamparan pasir putih, sementara pikulan kayunya terlempar dan menancap di sela-sela Watu Dodol. Pikulan kayu tersebut tumbuh menjadi Pohon Kelor. Konon hingga kini kayu kelor itu dipercaya dapat menghilangkan segala ilmu kanuragan jika bersentuhan dengannya. Bekal air minum Kyai Semar yang tumpah menjadi sumber air tawar yang mengalir di bibir pantai, dan dari kecewanya Semar berdiam diri dan menjadi batu yang bernama batu Panjer Dodol. Konon pula banyak ahli supranatural yang meyakini, bahwa sosok semar hingga kini masih bertapa didalam batu tersebut. Dan batu tersebut diyakini sebagai paku bumi pulau jawa.

Memang sungguh kontrofersi adanya batu tersebut. Tak hanya penduduk setempat jaman dulu, yang tak dapat memindahkan batu tersebut, bahkan pada masa pendudukan Jepang di Indonesia, pasukan Jepang pernah berupaya untuk memindahkan Watu Dodol, karena mengganggu transportasi mereka. Puluhan orang dan mesin berat dikerahkan untuk memotong Watu Dodol agar lebih mudah dipindahkan, tetapi ternyata tidak membawa hasil. Saat hendak digulingkan dengan ditarik kapal, ternyata Watu Dodol tetap bergeming, malah konon kapal yang menarik akhirnya tenggelam.Hal inilah sebabnya hingga kini Watu Dodol berada di tengah dua ruas jalan.

 Oleh : Nur HM

 Mojopahit Joko Tole, Pesan Tersirat Dari Sang Putra Madura 
SejarahBudaya- Keris yang gagangnya dominan menyerupai bentuk manusia setengah badan, dengan posisi tangan sendekap kedepan ini, konon banyak diciptakan dari hasil buah tangan seorang pemuda sakti yang bernama Joko Tole. 

Dimana pemuda sakti tersebut adalah putra angkat dari seorang mpu besar yang bernama  R. Samandirjo atau yang lebih akrab disapa mpu. Kelleng. Joko tole ditemukan disebuah hutan dengan kondisi, sedang disusui seekor kerbau putih. Dimana belakangan diketahui bahwa Joko tole adalah anak dari seorang raja bernama Adi Podey dan seorang ibu yang berjuluk Potre koning. Dikarenakan adanya hubungan batin dan cinta terlaranglah kedua sejoli ( adi poday dan potre koning) sehingga mengharuskan membuang kedua bayinya, Joko Tole dan adiknya Agus Wedi. 

Dari keseharian Joko Tole yang selalu terbiasa dengan suasana pande besi ayah angkatnya inilah, membuat kebiasaan joko tole dengan senang meniru kebiasaan ayah angkatnya membuat keris.

Konon ketika Joko tole beranjak dewasa, dirinya gemar mencipta keris mini dari kepalan tanah liat dengan dapur Suro Mojopahit, berciri disetiap pesinya berbentuk seperti seorang yang sedang  bersendekap. Keris tersebut sengaja ia ciptakan tidak untuk dirinya sendiri, melainkan untuk diberikan kepada setiap orang yang ia temui. 

Dengan tujuan pemberitahuan tersirat kepada masyarakat untuk selalu tunduk patuh kepada sang pencipta seperti bentuk keris tersebut. Sedang pada bagian bilah ia ciptakan berkelok dan lurus, dengan maksud kehidupan lurus ataupun berliku semua adalah kehendak pencipta. Dimana manusia hanya menjadi peran yang menjalankan alur kehidupan tersebut, dan tak dapat menolaknya. Hanya saja manusia itu diberikan kewenangan untuk memilih. Seperti itu pula Joko Tole memberikan  buah tangannya kepada seseorang. Dimana ia selalu menyodorksn 2 keris yang berbilah beda (lurus dan luk), untuk dipilih penerimanya.

Setelah mengalami perjalanan panjang Joko Tolepun memilih mengahiri hidupnya menjadi seorang Resi disebuah desa kecil dipulau garam Madura.

Oleh: Nur. HM


SejarahBudaya - Perjalanan mistis, menembus lebatnya hutan kuno "Alas Purwo" Desa. Pancur Kec. Tegal Dlimo Banyuwangi.

Hutan rimba yang konon dijadikan cikal bakal lahirnya aksara Jawa oleh Aji Saka tersebut, menjadi tempat utama bagi setiap insan lelono (bahasa jawa) untuk menciptakan suatu cipta pemikiran yang cemerlang.

Dari cipta rasa sampai cipta wujud, Alas Purwo sudah ratusan tahun menjadi saksi bisu, akan berdirinya bangsa Indonesia ini.

Menurut pertapa dari Sumatra Heri, Hutan ini adalah tempat lahirnya berbagai ilmu,  jika ada yang berniat pesugihan di hutan ini, maka bisa dipastikan mereka akan pulang dengan tangan hampa. Dan takjarang yang datang kesini dengan niat ingin kaya, justru dia akan diberikan cobaan yang mengerikan, seperti tersesat, kelaparan, dan yang paling parah adalah kematian" tutur pria tua yang menurutnya sudah 25 tahun berada di alas purwo tersebut.

Heri, menjadi satu - satunya orang yang paling disepuhkan diantara beberapa orang pertapa di hutan tersebut.Berbagai mahluk halus sudah pernah ia temui di hutan angker itu. Sebulan sekali dirinya keluar hutan, untuk sekedar berinteraksi dengan masyarakat.

Cerita mistis di hutan Purwo bagi heri tergantung sudut pandang dan pemahaman masing - masing. Menurutnya jika memahami dengan kebeningan, sudah pasti hasilnyapun akan baik, begitu juga sebalknya. Numun apapun wujud hasil dari buruk dan baiknya semua itu adalah semata kehendak sang pencipta, mahluk hanyalah pelaku semata.

Author Name

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.