Articles by "Artikel"

Showing posts with label Artikel. Show all posts

Pondok Pesantre Baiturrohmah yang berada di Jl. Ciliwung, Purwantoro Blimbing Malang ini adalah, sebuah pondok pesantren yang menghususkan ajarannya di dalam bidang pembinaan dan pembenahan kerohanian Islam, secara metamorfosa pengkajian diri / Kholwah menuju manusia yang dapat merasuk Al-Islam secara hakiki dan berkeseluruhan / melebur menjadi Islam itu sendiri. Mulai dari syari’at, thariqat, haqiqat dan ma’rifat-Nya. Sehingga mencetak manusia yang fleksibel disegala aspek ruang dan waktu kehidupan, nantinya.

Pondok Pesantren Baiturrohmah didirikan oleh Asy-Syaikh KH.Abdul Chayyi Muchyiddin Al-Amien (mbah.Yayi).  Nama Muchyiddin Al-Amien adalah pemberian Allah Azza wa Jalla melalui wakilnya yang terpilih sewaktu Yayi menunaikan ibadah haji di Makkah al-Mukaromah. Beliau mempunyai putra yang kemudian menjadi penerusnya yakni Asy-Syaikh KH.M.Sholeh Hudi Muchyiddin Al-Amien yang sekarang menjadi penerus pengasuh pondok pesantren Baiturrohmah. Beliau (mbah Yayi) adalah putra dari Asy-Syaikh Muhammad Sholeh yang mana putra dari Asy-Syaikh Hasan Munadi yang apabila dirunut adalah keturunan dari Asy-Syaikh Syarif Hidayatulloh atau biasa dikenal sebagai Kanjeng Sunan Gunung Jati.

mbah. KH Muhyiddin AL - Amin



Beliau KH. Chayyi mempunyai peranan penting di dalam sejarah Negara Indonesia ini. Baik dalam proses sebelum maupun sesudah kemerdekaan,  diwaktu perjuangan maupun pengisian kemerdekaan, mbah yayi juga berjuang secara fisik, sewaktu jaman perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia, beliau pernah berada di dalam organisasi perjuangan kemerdekaan Indonesia yang bernama laskar hizbullah. Dan setelah merdeka beliau kembali pulang untuk fokus membangun pondok pesantren. Sebelum beliau mendirikan bangunan pondok pesantren, Yayi selalu mengajak muridnya untuk berjalan – jalan, guna mengajarkan tafaqqur alam. Terkadang di lembah pesawahan yang cukup luas, kadang juga masuk hutan, dan sering juga berkhalwat di Goa - goa. Beliau seringkali mengerahkan santri-santrinya untuk berjuang dan membangun Negara baru yang bernama Indonesia ini.

Dimana Pancasila di gagas oleh KH.Anwar Thohir yang kemudian dicetuskan dan dibawa oleh Bung Karno. Siapakah KH.Anwar Thohir ?,  Beliau adalah santri pertama dari Asy-Syaikh KH.Abdul Chayyi Muchyiddin Al-Amien atau Yayi. Kyai Anwar ini juga waktu jaman presiden Soeharto mendapat amanah untuk merumuskan P-4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) dan atas jasa beliau, Pak Harto waktu itu mau memberi beliau sebuah pondok pesantren yang letaknya di pulau Sumatera, namun beliau menolak dan kembali ke pondok pesantrennya sendiri yang terletak di Sonotengah, Malang.

Banyaknya masjid – masjid yang dibangun di seluruh Indonesia adalah juga buah dari mbah Yayi yang pada saat th.1970 – an terkenal di media massa waktu itu dengan berita ‘Soekarno bangkit kembali’ karena saking miripnya beliau menyalin rupa seperti Soekarno untuk menemui Presiden Soeharto di istana Negara dan meminta beliau (Pak Harto) untuk memperbanyak dan memudahkan pembangunan masjid – masjid di seluruh Indonesia yang pada waktu itu masih sedikit.

Di zaman reformasi pun juga tidak terlepas dari kiprah santri – santri Yayi. Adalah Abah To’ib padangan, Mojokerto yang mengawal masa transisi dan untuk mengisi kekosongan sekaligus untuk peredaman situasi dengan menggunakan jasad KH.Abdurrahman Wachid atau yang biasa dikenal dengan sebutan akrab Gus Dur. Dan masih banyak lagi kiprah dan jasa dari Yayi maupun santri - santri pondok pesantren Baiturrohmah Malang ini terhadap Alam Semesta, Dunia, Negara, Masyarakat pada umumnya yang tidak dapat disebut satu – persatu. Perlu diketahui bahwa di pondok pesantren Baiturrohmah tidak ada istilah alumni, yang ada adalah santri tua.

Dari beberapa Santri tua yang sampai dengan saat ini, masih dikenang jasa - jasa di daerahnya masing masing salah satunya, alm. Mbah. Yai. Jatmiko Mojokerto, alm. Mbah. Mahfudz Tegal Dlimo Banyuwangi, Yai Abd. Halim Bondowoso, dan lain - lain. Dimana banyak diketahii sebagian besar dari para santri tua tersebut, telah banyak mengukir prestasi keruhanian bagi anak didiknya masing masing. Semoga manfaat.

Lurah Semar Saat Mewejang Momongannya, Raden Permadi Arjuna


Wujud Bakti suci Arjuna pada Negara, dalam mendapatkan wahyu dari Yang Maha Kuasa berupa Wahyu "Aji Gineng Sukawedha" penuh dengan perjuangan dan pengorbanan yang begitu besar.

Keberhasilan ini adalah wujud kerja kerasnya yang dibantu oleh Ki Lurah Semar Bandranaya.

Wahyu Aji Gineng Sukawedha adalah ajian sakti yang oleh salah satu pemiliknya Pikulun Nagaraja, digunakan untuk mengetahui bahasa semua mahluq di dunia ini.  Sementara pemilik ajian serupa Prabu Newatakawaca, menempatkan aji gineng di dalam tenggorokannya. Baik Nagaraja maupun Newatakawaca menjadikan Aji Gineng sebagai sarana artikulasi dan penyampaian pesan.  Intinya, Aji Gineng akan menjadikan seorang prajurit mampu memahami kehendak bawahannya.  Aji Gineng adalah sarana komunikasi atasan dengan bawahannya.

Untuk mendapat wahyu tersebut  dari Batara Guru Arjuna, sengaja  dikadali oleh Bethara Guru, dikarenakan Bethara Guru berniat menyerahkan Aji Gineng Sukawedha kepada anak biologisnya dengan Bethari Durga, yaitu Dewasrani.

Mengetahui hal tersebut, sebagai abdi yang tanggap terhadap kesulitan momongannya, Lurah Semar  bergegas menuju kahyangan guna menuntut keadilan pada Bethara Guru, dikarenakan perjuangan dan pengorbanan Arjuna dalam menempuh Tapa brata, sudah dianggap layak guna memperoleh wahyu tersebut. Rekayasa tingkat tinggi yang dilakukan oleh Bethara Guru bersama dengan Bethari Durga akhirnya kandas ditangan Lurah Semar.  Lurah Karang Kadempel inilah yang pada akhirnya menjadi tokoh sentral diakhir cerita untuk memuluskan langkah Arjuna mendapatkan haknya.

Dalam Lakon Semar Maneges, nama Aji Gineng muncul lagi dalam bentuk wahyu yang merupakan representasi dari wahyu keprajuritan.  Nilai filosofis yang tersirat dari lakon ini adalah wahyu (kekuatan) seorang pemimpin yang akan dapat dicapai apabila seorang ksatria/pemimpin senantiasa melibatkan “wong cilik” dalam meraihnya.  Semar adalah represntasi wong cilik, sementara Arjuna adalah simbol seorang ksatria, seorang aparat dan abdi Negara, seorang nayaka praja yang dianggap mengerti dan bertanggung jawab terhadap rakyat kecil.

Dengan wahyu gineng inilah Pandawa semakin kuwat mewakili kebenaran. Sadar bahwa kesaktian Pandawa tidak mungkin ditandingi oleh para kurawa, maka Prabu Duryudana berniat untuk mengembalikan Negara Hasitana kepada Pandhawa.  Niat ini ditentang oleh Patih Sengkuni dan Pendhita Durna.  Merekka menyarankan untuk lebih baik Sang Prabu berupaya meraih turunnya Wahyu Aji Gineng Saptawedha yang dalam waktu dekat akan diturunkan oleh Dewa di lereng Gunung Arjuna.  Prabu Duryudana menyetujui usulan ini dan memerintahkan Adipati Karna untuk “nyadhong’ turunnya Wahyu Aji Gineng Sukawedha. Alhasil Karnapun juga mendapat aji gineng yang serupa dengan milik Arjuna.

Di kahyangan Jonggringsaloka, Bethara Guru tengah menerima kehadiran Bathari Durga bersama anak lelakinya yang sudah menjadi raja di Tunggulmalaya, Dewasrani.  Kedatangannya kali ini adalah untuk menagih janji Bathara Guru kepada Dewa Srani yang akan menyerahkan Wahyu Aji Gineng kepada Dewasrani apabila anak lelakinya ini sudah bersedia hadir menghadap dirinya.

Seperti saya kemukakan didepan, Aji Gineng Sukawedha akhirnya didapatkan oleh Panengah Pandhawa, Raden Arjuna, yang dikemudian hari ajian itupun digunakan Raden Permadi menumpas keangkaramurkaan Kurawa.

Aji Gineng  adalah sebuah pusaka (ajian) sakti yang dikemudian hari juga dimiliki oleh Pikulun Nagaraja, yang kelak menjadi Guru Spritual Prabu Malwapati Angling Darma.  Ajian inilah yang pada akhirnya membuat Dewi Setyawati, sang permaisuri membakar diri.  Dikarenakan, Angling Darma menapatkan wewarah Aji Gineg dari Nagaraja.  Hasilnya, Angling Darma mampu mengetahui bahasa semua jenis binantang di dunia ini.  Setyowati membakar diri karena Angling Darma tidak mau memberikan ajian sakti ini kepadanya.  Yang kedua, Aji Ginengdimiliki oleh Prabu Newatakawaca dari Keraton Himahimantaka yang menjadikannya sakti luar biasa.  Hingga Tak seorangpun mampu menandingi kesaktian Raja Raksasa ini.  Namun dikarenakan raja tersebut menyalah gunakan aji luhur ini di jalan kesesatan, pada ahirnya raja sakti ini, terbunuh oleh ajiannya sendiri.

Jadi kesimpulannya, sebaik apapun prinsip dan ideologi yang digunakan, jika penerapannya salah, maka salahlah pula semua yang disandangnya, begitupun sebaliknya.


Demun Sang Penulis, MENDAFTAR MENJADI TUHAN
SejarahBudaya - Demun adalah seorang pemuda desa yang gigih bekerja, sebagai kuli panggul di perkebunan kopi. Dalam bekerja pemuda desa itu berangkat dini hari, dan pulang hingga larut malam, begitu ia lakukan setiap harinya. Dengan upah dibawah rata - rata perhari, Demun hanya mampu meraup upah maksimal Rp. 25000. Tentunya dengan penghasilan minim seperti itu Demun cukup sulit untuk mewujudkan cita - citanya menjadi penguasa perkebunan yang kaya raya nan banyak istri pula.

Sedang anggaran yang ia canangkan untuk menggapai cita citanya tersebut, telah Demun hitung kurang lebih 20 milyar. Kadang Demun bergumam dalam hati " Jika penghasilanku begini terus bisa - bisa bekerja seumur hiduppun takkan mampu ku gapai impian itu. Sedang untuk mencari tambahan lain, aku sudah tak ada waktu lagi".
 
Hingga pada suatu hari pemuda desa itu berniat mencari guru sakti. Dimana sebelumnya, ia diberi tahu seorang nenek yang datang menghapirinya, tanpa ia kenal. Nenek itu mengaku bernama Nisem, dan ia memberi tahu "bahwa di gunung kidul ada seorang wali yang berilmu tinggi namanya mbah".

Dari keterangan Nisem pada Demun,  "mbah. Mulyo pernah meminta sandal pada seorang tukang sampah Waidin namanya, dikarenakan sandal yang dipakainya rusak, tukang sampahpun dengan ikhlas memberikan sandalnya itu. Setelah mbah. Mulyo memakai sandal Waidin, ia lalu memberikan sandal putusnya itu kepada si Waidin  sembari berpesan, " Simpanlah sandalku ini baik - baik siapa tau kelak kau bisa berhaji 10 kali,  Dan setelah itu mbah Karomah pergi.

Allahu Akbar, tak lama dari kejadian tersebut situkang sampahpun dapat menunaikan hajinya, hingga kini genap 10 kali haji. Dan masih  banyak lagi cerita karomah dari mbah. Mulyo yang wali itu".

Mendengar cerita Nenek tersebut, dengan tekad kuat ingin kaya,  Pemuda ini berangkat ke gunung kidul untuk menemui seorang wali yang ia yakini dapat mewujudkan cita - citanya tersebut.

Singkat cerita berhadapanlah Demun dengan mbah. Karomah di surau kecil dekat air terjun.
Kyai Karomah: Ada kepentingan apakah engkau sehingga datang kemari menemuiku wahai anak muda?

Demun: Begini yaa waliullah, aku sudah bekerja keras siang dan malam, dan aku juga sudah berdoa tak henti - henti namun, sampai detik ini rencanaku menjadi kaya belum juga terpenuhi. Padahal jika aku kaya, aku tidak akan sombong dan selalu akan bersedekah pada yang membutuhkan. Namun sampai detik ini tak satupun rencanaku yang berhasil sesuai harapanku. Sudikah kiranya kanjeng sunan menolongku, agar semua rencanaku dapat terwujud. 

Kyai Karomah: (dengan tersenyum ia berkata) Semua dilangit di bumi dan seluruh semesta ini adalah rencana tuhan, bahkan kata tuhan "Tak sehelai daunpun jatuh ke bumi ini, tanpa atas rencanaku" begitu pula aku saat ini dipertemukan dengan dirimu, semua ini atas rencana Tuhan. Manusia hanya bertawakal dan menjalaninya saja. Nah aku tanya sekarang kepadamu wahai pemuda, yakinkah engkau bahwa hidup ini adalah rencana tuhan?

Demun: Yakin kanjeng Sunan

Kyai Karomah: Jika kau yakin, mengapa sebagai mahluknya kau ikut - ikut berencana?, dengan ikut serta merencanakan kehidupan ini. Secara tidak langsung engkau telah mendaftarkan diri menjadi tuhan. Aku bertanya sekali lagi padamu, bolehkah mahluk tuhan mendaftar jadi tuhan?

Demun: Tidak boleh kanjeng Sunan 

Kyai Karomah: Kata siapa tidak boleh ? Boleh lah asal mampu. Tuhan maha segala, apa yang tidak ia beri pada ummatnya yang hanya dapat meminta namun tak sadar akan kewajibannya. Banyak manusia sekarang ini dengan tanpa sadar,  telah mendaftarkan diri menjadi tuhan, juga termasuk engkau wahai anak muda. Nah sekarang coba kau fikir walaupun manusia diperbolehkan menjadi tuhan ! pertanyaannya, menusia manakah yang mampu menjadi tuhan ? Tak ada satu mahlukpun yang sanggup dan mampu menandingi ke Esaannya. Jangankan sanggup, bahkan mendekati layak saja saya rasa tidak ada. Hal ini sudah pernah dicontohkan nabi Sulaiman, waktu akan memberi makan ikan nun dulu.
Bak ditelanjangi dengan kebingunganya,  

Demun lalu bertanya: Harus apa dan bagaimanakah diriku saat ini kanjeng sunan?

Kyai Karomah: Berkacalah, sudah pantaskah dirimu menerima apa yang kau pinta? Sudah mampu ? Sudah siap?, Tuhan tak mengabulkan permohonanmu karna beliau menunggu kesiapan, kepantasan, dan kemampuanmu  untuk menerima permohonanmu itu.

Ibarat kau memiliki pistol, lalu pistol tersebut diminta oleh putramu yang masih balita, tegakah engkau memberikan pistol tersebut? Seperti itu pula tuhan kepadamu.  Nah mulai sekarang pantaskan dulu dirimu sebelum kau meminta. Jadikan semua hajat hajatmu sebagai Niat yang harus kau jalankan. Jangan kau jadikan hajat hajatmu sebagai rencana, karena rencana hanya milik tuhan semata.

Dengan memberikan sebatang bolpoin hitam kepada Demun, mbah. Mulyo berpamit kedalam rumah meninggalkan Demun sendiri " Assalamualaikum waroh matullahi wabarokatuh". Belum sempat menjawab mata Demun seolah kemasukan sesuatu yang sangat perih dirasa. Dengan cekatan Demun mengusap matanya, dan setelah dirasa sedikit membaik ia mencoba membuka matanya perlahan. Namun alangkah terkejutnya dia kala membuka mata, Demun berada ditengah hutan pinus digunung kidul. Jangankan  Surau dan kediaman Kyai Karomah yang lenyap tanpa bekas, bahkan aroma wangi Kyai Karomahpun sudah tak tercium lagi disela lubang hidungnya.

Hingga Demun benar benar tersadar dan seolah ia paham dengan semua yang telah terjadi pada dirinya. Dengan semangt tinggi iapun bergegas pulang.

Sejak saat kejadian tersebut cara hidup Demun yang ia anggap salah, sedikit demi sedikit diperbaiki. Dan hingga saat ini Demunpun beralih profesi sebagai penulis ulang Kitab keagamaan. Dan dengan kondisi demikian, kehidupan Demun bertahap semakin membaik.

Joko Sambat, Temukan Pencerahan Dari Kesesatan [bagian 1]
SejarahBudaya - Disuatu Desa terpencil, hiduplah seorang pemuda sederhana bernama "Joko Sambat". Kehidupannya sebagai seorang anak tunggal, membuat dirinya begitu disayang kedua orang tuanya. Meski begitu gaya hidup Joko, tak selalu dianggap layak dibanding remaja lain sebayanya. Hal ini dikarenakan kondisi perekonomian orang tuanya serba pas-pasan. Ayah Joko yang hanya pengayuh becak dan ibundanya yang menjadi buruh cuci inilah yang membuat keluarga tersebut hidup pas-pasan bahkan terkesan serba kekurangan. 

Banyaknya keinginan yang tak terpenuhi, membuat Joko selalu mengeluh terutama mengeluh pada dirinya sendiri. Dengan keluhan yang ada Pemuda itu sering mengalami frustasi, depresi dan lain - lain.

Hingga pada suatu ketika, diahir masa pendidikannya yang tinggal menunggu beberapa minggu saja, pemuda pengeluh itu terjerat cinta dengan seorang wanita. Dari saking cintanya pada wanita tersebut, ia rela mengorbankan sekolahnya hingga tidak dapat meraih kelulusan. Walau begitu Jokopun membranikan diri menikahi wanuta tersebut. Tentu saja dengan tanpa restu kedua orang tua Joko.  Satu tahun pertama pernikahan yang tak direstui itu berjalan lancar, hingga kelahiran putri pertamanya. Mendengar Joko dikaruniai buah hati, setuju atau tidak, orang tua jokopun ahirnya menyetujui pernikahan joko. Dari persetujuan inilah Joko dan anak istrinya berani pulang guna menyambung kembali ikatan darah yang pernah terputus. 

Disinilah awal keretakan rasa antara Joko dan istrinya, dikarenakan si istri  melawan dan sering marah kepada orang tua joko. 

Perselisihan demi perselisihan kerap terjadi antara mertua dan menantunya. Hingga dua tahun berlangsung, Putra kedua Joko terlahir kedunia. Kelahiran putra kedua ini bukan malah membuat keluarga joko tentram, namun justru sebaliknya. Joko yang hanya bekerja srabutan, membuat istri tercintanya tidak lagi setia, hingga tega menjalin asmara dengan pria lain. Hingga pada malam naas itu, joko berpamit pada istrinya untuk bekerja. Namun ada teman kerja Joko yang kasihan pada bapak 2 anak itu, hingga dia memberi tahu joko, bahwa saat  ini istrinya sedang selingkuh dengan pria lain dirumahnya. Dari keterangan tersebut joko pulang dari tempat kerjanya, guna memastikan kondisi istrinya tersebut. Setelah sampai dirumah, joko melihat istrinya tidur dengan pria yang dimaksud. Kalap jokopun terlibat perkelahian dengan pria selingkuhan istrinya tersebut. 

Singkat cerita, malah jokolah yang diusir istri dengan dukungan mertua dan beberapa saudara istrinya tersebut. 

Tepat pada tengah malam sekitar hampir subuh, Joko keluar meninggalkan istri dan kedua anaknya. 

Dalam perjalanan joko benar benar depresi, ia tak tau harus berbuat apa dan mau kemana. Bahkan sempat terbersit dalam benak, untuk mengahiri hidupnya. Sampai pada ujung depresi tersebut, antara sadar dan tidak, Joko didatangi sosok tua renta yang ia kenal wajah itu adalah kakeknya yang sudah lama tiada. 

Kakek : wahai cucuku, ketahuilah untuk dapat berdiri terkadang kita harus melalui Jatuh yang amat sakit. Hidupmu masih panjang, banyak yang belum kau ketahui tentang makna hidup ini. Maka bangkitlah engkau dan berjalanlah ke arah timur, temukanlah titik heningmu disebuah hutan lebat diujung timur pulau jawa ini.

Seolah tersambar petir Jokopun terbangun dari duduknya dan bertekat menemukan hutan sesuai petunjuk tadi. 18 hari Joko berjalan, hingga ahirnya menemukan tempat yang dimaksud kakek dalam mimpinya tersebut. Hingga ditempat tersebut Joko bertemu dengan seorang kiyai yang dikenal penduduk setempat sebagai juru kunci hutan tersebut. 

Singkat cerita bergurulah Joko pada kiyai tersebut. Hingga tanpa terasa, masa ia berguru sudah lebih 4 tahun. Dalam waktu yang tidak sebentar itu Joko, sudah mengalami perubahan sifat, pemikiran yang  berbeda jauh dari sebelumnya. Dari yang biasanya pemarah memjadi lebih tenang dan lebih dingin. Mungkin karna memang pelajaran yang diberikan kiyai tersebut benar - benar diterapkan oleh Joko. 

Hingga suatu hari sang guru berpesan, " Nak mas engkau sudah terlalu lama berada disini, bukannya niatku mengusirmu namun, akan lebih manfaat jika apa yang kau serap dariku, kau gunakan dan kau tularkan pada keluarga dan masyarakat ditempatmu berasal. Tak harus kau jawab sekarang, fikirlah dulu masak - masak sebelum kau ambil keputusan. Aku cukup senang dengan adanya kau disini, namun aku tidak ingin mengkerdilkan dirimu dengan terus menerus menahanmu di hutan ini. Baiklah sekarang kau boleh undur diri untuk memikirkan apa yang q katakan, dan setelah kau dapat menjawabnya segera kau temui aku kembali".

Dengan pikiran yang bingung Joko beranjak dari duduknya, menuju tempat dimana ia bisa tinggal selama 4 tahun ini. Joko bingung dikarenakan selama ia berguru ini memang banyak yang ia dapatkan, namun sampai detik ini dirinya belum mendapatkan apa yang dicarinya. Selang seminggu Jokopun menemui kembali gurunya tersebut.

Joko: Wahai guruku, selama ini aku sudah mendapatkan banyak ilmu darimu, namun selama ini pula aku belum mendapatkan apa yang aku cari.

Kiyai: Apakah yang kau cari wahai anakku?

Joko: Aku belum mengetahui kesejatian diriku yang sebenarnya, dan untuk apakah diriku ini ada?.

Kiyai: Heeemm...baiklah sebelum kujawab, ada satu pertanyaan yang akan kuajukan padamu, Coba engkau tunjuk dengan jarimu dimana yang sejatinya bernama Joko tersebut ?, dari ujung rambut sampai kaki sudah memiliki nama fitroh sendiri. Tak ada satupun dari bagian tubuh manusia yang bernama Joko. Ada yang namanya hati, jantung, tangan, ruh, jasad, sukma dan lain lain. Lalu bisakah kau tunjuk dengan jarimu dimana letak joko? Kau marah, karna kau merasa Joko, kau tersenyum karna kau merasa joko, kau diacuhkan, dihina, dan diabaikan karna kau Joko. Dengan kata lain Joko yang kau banggakan adalah joko yang membawa dirimu pada kesesatan. Bukan hanya menyembah berhala dan menyekutukan kitab, nabi, dan lain lain yang di anggap sesat, lupa akan siapa dirimu yang sebenarnya itulah sebenarnya kesesatan yang nyata yang tidak kau kau sadari. " Leburkanlah dirimu dengan dzat dan sifat sifat ketuhananmu, hingga dapat kau sadari dirimu takkan mampu apapun tanpa atas pertolongannya. Jika kau sudah mampu sadari itu semua yakinlah Tuhan selalu bersamamu.

Tanpa sepatah katapun Joko menundukkan kepala sambil terurai deras air matanya, sambil terucap dalam hatinya: "Tuhan hanya engkaulah yang tau atas kesesatanku selama ini. Hingga selama ini kau baru menyadarkanku, terima kasig tuhan, karna kau telah menyadarkanku sebelum kau lepas ruh ini dari ragamu"
Alhamdulillah alhamdulillah.... 

Tamat.

Oleh:  Nur HM

SejarahBudaya - Di desa terpencil hiduplah seorang Kiyai sepuh yang bernama Fatah Ainulyaqin. Kyai Fatah memimpin sebuah pondok pesantren sederhana, dimana banyak dari alumni santrinya, yang menjadi kyai besar dan tokoh - tokoh agama yang terkenal di Nusantara ini.

Ponpes "Legowo al-Hisab" yang dipimpin kyai Fatah ini, dominan mengajarkan Khilafah, tentu dengan tidak meninggalkan ajaran - ajaran lainnya seperti Fiqih dan lain lain. Salah satu ajaran yang paling ditegakkan dan ditanamkan pada santri santrinya adalah " Tuhan ada dimana - mana, dan tuhan tidak tersekat ruang dan waktu".

Berawal dari keterangan tersebutlah, hingga suatu ketika, Kyai Fatah mendengar salah satu alumni santrinya, telah menyimpang dengan memfatwakan dirinya dekat dengan tuhan, dan merasa sanggup mewakili seluruh hajat pengikutnya kepada tuhan, dengan kata lain santri kyai Fatah tersebut mengaku sebagai tangan tuhan.

Mendengar hal ini kyai Fatah mencari strategi untuk mengingatkan santrinya tersebut kembali pada jalan kebenaran. 

Hingga pada waktu yang tepat, yai Fatah berangkat ke kediaman santri yang dimaksud, dengan menyamar sebagai pengamen. Hanya dengan membawa rebana dan patung berhala, yai sepuh itu menghampiri Ponpes milik santri sesatnya tersebut. Singkat cerita, bertemulah yai Fatah dengan tanpa dikenali oleh santri sesatnya itu.

Yai Fatah: Assalam alaikum ndoro yai, saya mau numpang sholat. Santri: Waalaykum salam, kasihan benar nasibmu wahai pengamen, setua ini masih saja kau terlunta dengan mengamen.

Yai Fatah: Yah.. mau bagaimana lagi kyai, hidup dijaman sekarang ini, jika tidak bekerja dan berdoa dengan sungguh- sungguh tentu tidak akan mendapat rizki darinya yai. Santri: Hahaha.. berarti doamu selama ini belum layak didengar oleh Allah. Dari itulah keto'atanmu tak berbuah hasil, buktinya hingga sekarang dirimu masih menderita.

Yai Fatah:  Sudikah kiranya yai meberi petunjuk agar doa saya menjadi layak dihadapan Allah? Santri: Baiklah bersihkan dulu tubuhmu, setelah itu ganti pakayanmu, dan temui aku dimusollah pribadiku, aku satu-satunya sebagai tangan tuhan akan mengantarkan hajatmu pada allah. (Setelah menyodorkan pakayan, santripun berlalu menunggu kyainya di musollah).Usai membersihkan diri dan mengganti pakayan kyai Fatahpun bergegas menemui santrinya di Musollah yang dimaksud.

Yai Fatah: Asalam alaykum yai. Santri: Dengan tidak menjawan, Duduklah dulu aku akan mengambil minyak karimah, karena tanpa minyak itu aku tak dapat menembus sidrotul muntaha.

Yai Fatah: Njeh yai,
Saat santri beranjak pergi mengambil minyak, yai Fatah mengeluarkan patungnya dan menaruh pas di depan pengimaman.
Singkat cerita ketika santri memakai minyak harum tersebut, anehnya minyak yang ia pakai berubah menjadi bau bangkai. Santripun tak memghiraukan bau tersebut, dan iapun bertanya pada kyai Fatah,
Santri: Hai kisanak bau apakah yang kau cium ?

Yai Fatah: Harum ndoro
Santripun bergegas menuju ke tempat imam dan mengimami kyai Fatah, guna menunaikan solat hajat. Ditengah tengah solat, santri terhentak dan baru sadar jika didepannya ada patung berhala. Sontak saja solatnya terhenti, anehnya saat santri akan branjak dari tempatnya, dia menjadi kaku dan tak dapat bergerak. Sementara itu Yai. Fatah meneruskan solatnya. Ditengah tengah solat antara sadar dan tidak, Santri mengalami kejadian luar bisa. Seolah dirinya ditemui Kyai Fatah dimana gurunya tersebut berpesan, "Ingatkah kamu wahai anakku, bahwa Allah tak tersekat ruang dan waktu. Ketika Allah berkehendak, jangankan kepadamu, pada seorang pengamen hinapun Allah bisa mencurahkan rahmatnya. Namun ketika engkau merasa dirimulah satu satunya penolong ummat, dan yang lain hanyalah kaum hina yang dapat kau tolong, maka sesungguhnya engkau telah menjadikan dirimu menjadi tuhan itu sendiri.  

" MAN AROFA NABSAHU FAQOD AROFA ROBBAHU : Barang siapa mengenal  dirinya, maka dia mengenal Tuhan nya. WA MAN AROFA ROBBAHU FAQOD JAHILAN NAFSAHU : Barang siapa merasa mengenal Tuhannya, maka dia termasuk golongan kaum yang bodoh. "

Jangankan menjadi tuhan, bahkan pada Bau bangkai dan berhalapun dirimu ketakutan, hingga kau rela menukarnya dengan kau meninggalkan ibadahmu. Sadar dan kembalilah pada jalan yang benar wahai anakku. Ingatlah kau hanya mahluk yang tak memiliki daya upaya dihadapannya"

Mendengar pesan itu, tersungkur dan sadarlah santri, hingga ia meneteskan air mata penyesalan. Dan tangisnyapun menjadi-jadi mana kala ia menoleh kebelakang, tak dilihatnya lagi sosok pengamen tersebut.

Oleh : Nur HM

Filterisasi Kehidupan " Kembali Menjadi Bodoh "
Sejarahbudaya - Hiruk pikuk gelombang arus Idiologi manusia, yang kian hari kian datang dan pergi silih berganti, membuat sendi pemikiran setiap kehidupan ini menjadi tak tentu arah. Tak sedikit pemahaman manusia, yang mengalami revolusi hingga mengadopsi pemikiran ala binatang. Hal ini banyak disebabkan karena, manusia dijaman sekarang sudah labil dalam menerapkan prinsip hidupnya.

Banyak Idiologi leluhur yang arif ditinggalkan, hanya karena mengejar idiologi perkembangan jaman yang tidak jelas sumber dan tanggung jawabnya. Sebenarnyalah jika kita dapat renungi kembali, ke ajaran leluhur masa lalu Jawa hususnya, tentang pepatah "Ajhar dadi goblok" (jawa red-) atau belajar menjadi bodoh, tentulah setiap manusia akan dapat memfilterisasi dirinya, untuk tidak terpecah belah dengan adanya idiologi berbeda yang kerap meracuni pemikiran.

Dalam bahasan ini kita tentu bertanya, apakah sebenarnya prinsip, Belajar menjadi bodoh tersebut ? ...

Dari beberapa nara sumber yang saya kumpulkan, sebagai penulis saya akan mengangkat paham tersebut dari seorang sepuh ahli filosof pimpinan Ponpes "Semburat Mabhur" Almarhum. Ach. Mahfudz atau yang kerap disapa mbah. Ud dari Desa. Pondok Asem Kec. Tegal Delimo, Kab. Banyuwangi, kala masa hidup beliau pernah suatu ketika mewejangkan tentang apa itu "Ajhar dadi Goblok" beliau menerangkan, " Dari hampa, manusia dilahirkan untuk hidup, dan kemudian hampa lagi. Dari bodoh menjadi tau, dan jangan lupa untuk meraih kebodohan itu kembali. Dimana meraih kebodohan itu kembali, bukannya bodoh seperti sedia kala, namun menetapkan akidah, prinsip, dan idiologi untuk dapat meredam pengetahuan agar tidak ditunggangi hawa nafsu, simpelnya belajar mem- bodoh. Membodoh disini lebih jelas jika disimpulkan menjadi "Berfikir Sederhana".

Atas kesimpulan tersebut, dapat dilihat, selisih paham yang kerap terjadi sekarang ini, karena kurangnya manusia yang mampu berfikir sederhana, sehingga lebih mengutamakan pengetahuannya untuk mencari perbedaan, dan tak berusaha menemukan persamaannya. Jika saja Semua perbedaan tersebut tidak dijadikan acuan kesalahan, namun justru dijadikan pelengkap kesamaan & persatuan,  maka sudah pasti angka perselisihan akan dapat ditekan seminimal mungkin.

Namun hendak kita sadari bersama semua prinsip idiologi pemahaman yang muncul dibenak manusia, hanyalah sebutir debu kebenaran dimata tuhan, selebihnya hanyalah kesalahan mutlak dari manusia itu sendiri.

Author Name

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.