Articles by "budaya"

Showing posts with label budaya. Show all posts

Lurah Semar Saat Mewejang Momongannya, Raden Permadi Arjuna


Wujud Bakti suci Arjuna pada Negara, dalam mendapatkan wahyu dari Yang Maha Kuasa berupa Wahyu "Aji Gineng Sukawedha" penuh dengan perjuangan dan pengorbanan yang begitu besar.

Keberhasilan ini adalah wujud kerja kerasnya yang dibantu oleh Ki Lurah Semar Bandranaya.

Wahyu Aji Gineng Sukawedha adalah ajian sakti yang oleh salah satu pemiliknya Pikulun Nagaraja, digunakan untuk mengetahui bahasa semua mahluq di dunia ini.  Sementara pemilik ajian serupa Prabu Newatakawaca, menempatkan aji gineng di dalam tenggorokannya. Baik Nagaraja maupun Newatakawaca menjadikan Aji Gineng sebagai sarana artikulasi dan penyampaian pesan.  Intinya, Aji Gineng akan menjadikan seorang prajurit mampu memahami kehendak bawahannya.  Aji Gineng adalah sarana komunikasi atasan dengan bawahannya.

Untuk mendapat wahyu tersebut  dari Batara Guru Arjuna, sengaja  dikadali oleh Bethara Guru, dikarenakan Bethara Guru berniat menyerahkan Aji Gineng Sukawedha kepada anak biologisnya dengan Bethari Durga, yaitu Dewasrani.

Mengetahui hal tersebut, sebagai abdi yang tanggap terhadap kesulitan momongannya, Lurah Semar  bergegas menuju kahyangan guna menuntut keadilan pada Bethara Guru, dikarenakan perjuangan dan pengorbanan Arjuna dalam menempuh Tapa brata, sudah dianggap layak guna memperoleh wahyu tersebut. Rekayasa tingkat tinggi yang dilakukan oleh Bethara Guru bersama dengan Bethari Durga akhirnya kandas ditangan Lurah Semar.  Lurah Karang Kadempel inilah yang pada akhirnya menjadi tokoh sentral diakhir cerita untuk memuluskan langkah Arjuna mendapatkan haknya.

Dalam Lakon Semar Maneges, nama Aji Gineng muncul lagi dalam bentuk wahyu yang merupakan representasi dari wahyu keprajuritan.  Nilai filosofis yang tersirat dari lakon ini adalah wahyu (kekuatan) seorang pemimpin yang akan dapat dicapai apabila seorang ksatria/pemimpin senantiasa melibatkan “wong cilik” dalam meraihnya.  Semar adalah represntasi wong cilik, sementara Arjuna adalah simbol seorang ksatria, seorang aparat dan abdi Negara, seorang nayaka praja yang dianggap mengerti dan bertanggung jawab terhadap rakyat kecil.

Dengan wahyu gineng inilah Pandawa semakin kuwat mewakili kebenaran. Sadar bahwa kesaktian Pandawa tidak mungkin ditandingi oleh para kurawa, maka Prabu Duryudana berniat untuk mengembalikan Negara Hasitana kepada Pandhawa.  Niat ini ditentang oleh Patih Sengkuni dan Pendhita Durna.  Merekka menyarankan untuk lebih baik Sang Prabu berupaya meraih turunnya Wahyu Aji Gineng Saptawedha yang dalam waktu dekat akan diturunkan oleh Dewa di lereng Gunung Arjuna.  Prabu Duryudana menyetujui usulan ini dan memerintahkan Adipati Karna untuk “nyadhong’ turunnya Wahyu Aji Gineng Sukawedha. Alhasil Karnapun juga mendapat aji gineng yang serupa dengan milik Arjuna.

Di kahyangan Jonggringsaloka, Bethara Guru tengah menerima kehadiran Bathari Durga bersama anak lelakinya yang sudah menjadi raja di Tunggulmalaya, Dewasrani.  Kedatangannya kali ini adalah untuk menagih janji Bathara Guru kepada Dewa Srani yang akan menyerahkan Wahyu Aji Gineng kepada Dewasrani apabila anak lelakinya ini sudah bersedia hadir menghadap dirinya.

Seperti saya kemukakan didepan, Aji Gineng Sukawedha akhirnya didapatkan oleh Panengah Pandhawa, Raden Arjuna, yang dikemudian hari ajian itupun digunakan Raden Permadi menumpas keangkaramurkaan Kurawa.

Aji Gineng  adalah sebuah pusaka (ajian) sakti yang dikemudian hari juga dimiliki oleh Pikulun Nagaraja, yang kelak menjadi Guru Spritual Prabu Malwapati Angling Darma.  Ajian inilah yang pada akhirnya membuat Dewi Setyawati, sang permaisuri membakar diri.  Dikarenakan, Angling Darma menapatkan wewarah Aji Gineg dari Nagaraja.  Hasilnya, Angling Darma mampu mengetahui bahasa semua jenis binantang di dunia ini.  Setyowati membakar diri karena Angling Darma tidak mau memberikan ajian sakti ini kepadanya.  Yang kedua, Aji Ginengdimiliki oleh Prabu Newatakawaca dari Keraton Himahimantaka yang menjadikannya sakti luar biasa.  Hingga Tak seorangpun mampu menandingi kesaktian Raja Raksasa ini.  Namun dikarenakan raja tersebut menyalah gunakan aji luhur ini di jalan kesesatan, pada ahirnya raja sakti ini, terbunuh oleh ajiannya sendiri.

Jadi kesimpulannya, sebaik apapun prinsip dan ideologi yang digunakan, jika penerapannya salah, maka salahlah pula semua yang disandangnya, begitupun sebaliknya.


Lokasi Pasar Setan LSS


GUNUNG RAUNG, salah satu gunung berapi aktif  di Jawa Timur yang menarik dan sering didaki oleh para pecinta alam.

Gunung yang berada di perbatasan 3 Kabupaten, Bondowoso, Jember, dan Banyuwangi ini, menyuguhkan pemandangan yang  indah, selain itu Gunung Raung juga terkenal dengan berbagai kisah legenda yang penuh akan misteri.

Kramatnya Gunung Raung tampak dari nama-nama pos pendakiannya yang menyimpan berbagai kisah misteri dan memiliki sejarahnya tersendiri, seperti Pondok Sumur, Pondok Demit, Pondok Mayit, dan Pondok Angin.

Menurut cerita masyarakat sekitar, pos pendakian Pondok Sumur memiliki sebuah sumur yang pernah digunakan seorang pertapa sakti dimana konon Sumur dan pertapa itu dipercaya masih ada hingga kini, namun tidak dapat dilihat kasat mata.

Para pendaki yang kerap berkemah di kawasan ini mengaku kerap mendengar suara derap kaki kuda yang melintas di belakang tenda. Tetapi saat dilihat ke belakang, tidak ada apa-apa.

Sedangkan Pondok Demit dipercaya masyarakat sekitar sebagai tempat jual-beli para lelembut atau Pasar Setan. Pada hari-hari tertentu, di kawasan ini suka terdengar keramaian seperti dalam pasar dengan alunan musik gamelan khas madura, yang konon hingga saat ini suara itu kerap terdengar hingga ke Kota Bondowoso dan sekitarnya.
Pondok Demit PD


Lokasi pasar setan terletak di sebelah timur jalur atau lembah dangkal yang hanya dipenuhi ilalang setinggi perut dan pohon perdu. Bagi orang-orang tertentu, lokasi ini kerap dijadikan tempat pemuja pesugihan.

Pos selanjutnya adalah Pondok Mayit. Sejarah pos ini sangat menyeramkan. Konon katanya, di kawasan ini pernah ditemukan sesosok mayat menggantung di pohon. Mayat itu adalah seorang bangsawan Belanda yang dibunuh para pejuang.

Sementara pos ahir Pondok Angin yang berada di puncak bukit merupakan pos yang sangat dinanti para pendaki. Dari pos ini, para pendaki bisa melihat pemandangan alam pegunungan dan gemerlap Kota Bondowoso, Jember dan Situbondo yang sangat indah.

Saat cuaca sedang mendung, dari pos ini juga bisa terlihat sambaran kilat di kota. Pemandangan yang sangat indah ini cocok bagi mereka yang mencintai seni fotografi.

Dikatakan Gunung Raung, karena saat angin bertiup dengan kencang, hingga membentur dinding lereng, suaranya terdengar maraung-raung bagailan raungan Singa. Saking kencangnya angin, jika tak berhati - hati kadang para pendaki bisa terpental hingga ke dasar jurang yang terjal.

Misteri yang menyelimuti pos Pondok Angin adalah derap kaki suara kuda dari kereta kencana yang kerap terdengar di kawasan ini. Konon, pondok Angin ini merupakan pintu gerbang masuk ke kerajaan gaib itu.

Misteri yang tidak kalah menyeramkan berada di barat kaldera Gunung Raung yang merupakan perbukitan terjal. Di kawasan ini dipercaya masyarakat sekitar sebagai Kerajaan Macan Putih yang merupakan singgasana Pangeran Tawangulun.

Kerajaan Macan Putih berdiri saat gunung ini meletus tahun 1638. Pusatnya terletak di puncak Gunung Raung. Kerajaan itu dipimpin oleh Pangeran Tawangulun yang merupakan salah satu anak raja di Kerajaan Majapahit yang hilang saat bertapa.

Masyarakat sekitar percaya, Kerajaan Macan Putih masih ada hingga kini. Beberapa kali, bahkan kerajaan ini melangsungkan upacara pernikahan. Saat upacara dilangsungkan, hewan milik warga banyak yang mati mendadak.

Menurut kepercayaan masyarakat sekitar, hewan-hewan itu bukan mati tanpa sebab, tetapi dijadikan upeti bagi para penguasa Kerajaan Macan Putih yang hilang tanpa jejak ke alam gaib atau moksa.

Masyarakat juga percaya bahwa Kerajaan Macan Putih sesekali tampak, terutama di malam Jumat kliwon ke alam nyata untuk beberapa maksud dan tujuan.

Dalam beberapa kepercayaan masyarakat disebutkan, Pangeran Tawangulun merupakan salah satu suami dari Nyai Roro Kidul. Setiap malam jumat, saat Kerajaan Macan Putih menampakkan dirinya ke alam nyata, Nyai Roro Kidul mengunjungi suaminya.

patung gandrung watu dodol

Wilayah ujung timur Pulau Jawa BANYUWANGI, yang begitu indah ini dahulu dipimpin oleh seorang raja yang bernama Prabu Sulahkromo.

Dalam menjalankan pemerintahannya sang raja, dibantu oleh seorang Patih gagah, berani, arif, dan tampan, patih tersebut bernama Patih Sidopekso. 

Istri Patih Sidopekso yang bernama Sri Tanjung sangatlah elok parasnya, dan halus budi bahasanya, sehingga membuat sang Raja tergila- gila dan jatuh cinta padanya. Agar tercapai hasrat sang raja untuk membujuk dan merayu Sri Tanjung maka muncullah akal liciknya dengan memerintah Patih Sidopekso untuk menjalankan tugas yang tidak mungkin bisa dicapai oleh manusia biasa. Maka dengan tegas dan gagah berani, tanpa curiga, sang Patih berangkat untuk menjalankan titah Sang Raja. 

Sepeninggal Sang Patih Sidopekso, sikap tak senonoh Prabu Sulahkromo dengan merayu dan memfitnah Sri Tanjung dengan segala tipu daya dilakukanya. Namun cinta Sang Raja tidak kesampaian dan Sri Tanjung tetap teguh pendiriannya, sebagai istri yang selalu berdoa untuk suaminya. Marahlah hati Sang Raja ketika cintanya ditolak oleh Sri Tanjung.

Ketika Patih Sidopekso kembali dari misi tugasnya, ia langsung menghadap Sang Raja. Akal busuk Sang Raja muncul, memfitnah Patih Sidopekso dengan menyampaikan bahwa sepeninggal Sang Patih pada saat menjalankan titah raja meninggalkan istana, Sri Tanjung mendatangi dan merayu serta bertindak serong dengan Sang Raja.

Tanpa berfikir panjang, Patih Sidopekso langsung menemui Sri Tanjung dengan penuh kemarahan dan tuduhan yang tidak beralasan.

Pengakuan Sri Tanjung yang lugu dan jujur membuat hati Patih Sidopekso semakin panas menahan amarah, bahkan Sang Patih dengan berangnya, mengancam akan membunuh istri setianya itu. 

Diseretlah Sri Tanjung ke tepi sungai yang keruh dan kumuh. Namun sebelum Patih Sidopekso membunuh Sri Tanjung, ada permintaan terakhir dari Sri Tanjung kepada suaminya, sebagai bukti kejujuran, kesucian dan kesetiannya ia rela dibunuh dan agar jasadnya diceburkan ke dalam sungai keruh itu, apabila darahnya membuat air sungai berbau busuk maka dirinya telah berbuat serong, tapi jika air sungai berbau harum maka ia tidak bersalah.

Patih Sidopekso tidak lagi mampu menahan diri, segera menikamkan kerisnya ke dada Sri Tanjung. Darah memercik dari tubuh Sri Tanjung dan mati seketika. Mayat Sri Tanjung segera diceburkan ke sungai dan sungai yang keruh itu berangsur-angsur menjadi jernih seperti kaca serta menyebarkan bau harum, bau wangi. Patih Sidopekso terhuyung-huyung, jatuh dan ia jadi linglung, tanpa ia sadari, ia    menjerit "Banyu..... ... wangi............... . Banyu    wangi ... .." Banyuwangi (Air Harum)  terlahir dari bukti cinta istri pada suaminya. Dan hingga saat ini BANYUWANGI  menjadi salah satu daerah yang tetap dapat mengharumkan Nusantara di kancah dunia.

Semi Bocah 10 Tahun, Menjadi Cikal Bakal Lahirnya GANDRUNG Banyuwangi
SejarahBudaya - Mengenal Gandrung Banyuwangi, dimana  Gandrung yang berarti hobi atau senang. Tarian ini masih satu aliran dengan tari Ketuk Tilu di Jawa Barat, Tayub di Jawa Tengah dan Jawa Timur bagian barat, Lengger di Cilacap dan Banyumas juga Joged Bumbung di Bali. Tari ini melibatkan beberapa wanita sebagai penari professional yang menari bersama-sama tamu (terutama pria) dengan duiringan musik atau gamelan.

Tarian ini populer di wilayah Banyuwangi yang terletak di ujung timur Pulau Jawa, dan telah menjadi ciri khas dari wilayah tersebut, hingga tak salah jika Banyuwangi selalu diidentikkan dengan Gandrung, dan akan banyak di jumpai di perbatasan wilayah patung penari Gandrung di berbagai sudut Banyuwangi. 

Tari Gandrung ini sering dipentaskan pada berbagai acara, seperti perkawinan, pethik laut, khitanan, tujuh belasan dan acara-acara resmi maupun tak resmi lainnya baik di Banyuwangi maupun wilayah lainnya. 

Asal-Usul Tari GandrungMenurut catatan sejarah-budaya.com, Gandrung pertama kalinya ditarikan oleh para lelaki yang didandani seperti perempuan dan menurut laporan Scholte (1927) instrumen utama yang mengiringi tarian gandrung lanang ini adalah kendang. Namun pada sekutar 1890 an demikian, gandrung laki-laki ini lambat laun lenyap dari Banyuwangi,  Yang dimungkinkan karena masuknya ajaran Islam radikal, yang melarang segala bentuk travesty atau berdandan seperti perempuan. Namun, tari gandrung laki-laki baru benar-benar lenyap pada tahun 1914, setelah kematian penari terakhirnya, yakni Marsan.

Sedangkan Gandrung wanita pertama dikenal pada tahun 1895, dikenal dalam sejarah budaya sebagai "Gandrung Semi", dimana pemerannya seorang anak kecil yang masih berusia sepuluh tahun. Menurut cerita rakyat, dipercaya waktu itu Semi menderita penyakit yang cukup parah. Segala cara sudah dilakukan hingga ke dukun, namun Semi tak juga kunjung sembuh. Sehingga ibu Semi (Mak Midhah) bernazar seperti “Kadhung sira waras, sun dhadekaken Seblang, kadhung sing yo sing” (Bila kamu sembuh, saya jadikan kamu Seblang/ penari kalau tidak ya tidak jadi". 

Ternyata, akhirnya Semi sembuh dan dijadikan Seblang sekaligus memulai babak baru dengan ditarikannya Gandrung oleh wanita.Tradisi Gandrung yang dilakukan Semi ini kemudian diikuti oleh adik-adik perempuannya dengan menggunakan nama depan Gandrung sebagai nama panggungnya. Kesenian ini kemudian terus berkembang di seantero Banyuwangi dan menjadi ikon khas setempat.

Banyak sanggar sanggar yang hingga kini tetap eksis melestarikan kesenian budaya ini. Salah satunya  Sanggar tari asuhan Jaswadi  "Mitra Remaja" yang berada di Kec. Muncar.

Pada mulanya Gandrung hanya boleh ditarikan oleh para keturunan penari gandrung sebelumnya, namun sejak tahun 1970an mulai banyak gadis-gadis muda yang bukan keturunan gandrung, ikut mempelajari tarian ini dan menjadikannya sebagai sumber mata pencaharian disamping mempertahankan eksistensinya yang makin terdesak oleh era globalisasi. Namun menurut sumber berbeda, tari gandrung konon lahir pada zaman Kerajaan Airlangga di Jawa Timur. 

Dalam suasana bersukaria, para prajurit keraton ada yang menabuh gamelan, ada yang menari. Mereka menari secara bergantian setelah penari sebelumnya menyentuh penonton yang berdiri di tepi arena. Perkembangan berikutnya, penari utamanya adalah perempuan (gandrung) yang pada awal penampilannya menyatakan tiang lanang (saya lelaki) kemudian menari sambil bernyanyi (basandaran atau bedede).

Tari ini terdiri atas tiga babak, yaitu babak bapangan-penari memperkenalkan diri kepada penonton-babak gandrangan di mana penari dengan kipas di tangan mengitari arena. Saat tertentu penari menyentuhkan kipasnya (tepekan) pada salah seorang penonton, yang serta-merta maju ke tengah arena untuk menari (pengibing). Kemudian babak parianom, di mana penari menari sambil bernyanyi dan melayani sang pengibing. Tiap pengibing diberi waktu menari sekitar 10 menit dan menyerahkan uang ala kadarnya sebelum meninggalkan arena. Namun ketika hidung pengibing mampu menyentuh hidung penarinya maka, sebaliknya Pengibing akan diberikan semua saweran yang diperoleh penari.

Author Name

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.